Sabtu, 05 September 2009

Kisah Shalat Jumat

Pada pagi jumat yang cerah, tepat pukul 11.00wib, saya dan anak saya bersiap-siap menjalankan ibadah shalat jum'at di mesjid raya Blangkejeren (kab. gayo lues NAD), dan ketika saya mengajak anak saya untuk segera berangkat iapun berkata: "ya Ayah, supaya kita bisa mendapat shaf paling depan", pada pukul 11.30 kamipun tiba di mesjid yang masih langgeng dan baru ada 6 orang di mesjid tersebut dan 3 orang berada dishaf paling depan. (sebagai tambahan; anak saya laki-laki berusia 8 tahun dan sudah berpuasa penuh selama bulan ramadhan 2 tahun ini dan sudah mengetahui semua rukun dan bacaan shalat).
singkat cerita; kamipun duduk dishaf depan yang masih langgeng dan kamipun duduk di barisan paling ujung kiri (karena saya membawa anak kecil), kemudian beberapa saat kemudian berdatanganlah jamaah lain dan saat asyiknya mendengarkan khutbah jum'at ada seorang tua haji yang tiba entah pukul berapa dimesjid kemudian dengan suara yang lantang dan keras berkata ; "anak kecil, pindah keujung saf karena nanti barisan shaf ini putus karena ada anak-anak di tengah shaf". saya pun terperanjat dan saya pun menyuruh anak saya pindah ke ujung shaf namun tetap di barisan shaf terdepan. saya pun menggeram , namun apa daya semua amarah harus ditahan ditengah bulan puasa ini dan ucapan seperti itu memang sudah biasa diucapkan orang tua di daerah kami. namun setelah itu saya berfikir panjang,
1. kenapa ya semua orang tua begitu, bukankah beliau sudah pulang dari Mekkah dan Madinah menunaikan ibadah haji, dan disana anak-anak boleh berdiri di shaf manapun sepanjang anak-anak itu tidak bermain-main dalam mengerjakan shalatnya, kenapa para haji ini tidak mengambil pelajaran dari apa yang dia lihat di Mekkah dan Madinah.
2. Upaya bersegera ke mesjid dan menunaikan ibadah shalat jum'at sesuai dengan firman Allah di surah Jummu'ah, dan apa yang diharapkan saya dan anak saya adalah mendapat shaf terdepan dan tidak mengharapkan piala dan penghargaan dari jamaah manapun karena kami melakukannya karena Allah dan mengharapkan pahala dan balasan dari Allah, Tuhan kami dan Tuhan Semesta Alam.
Hampir saja saya kehilangan kesabaran mendengar apa yang diucapkan orang tua tadi, namun orang tua yang duduk di kiri kanan saya tidak ada yang memprotes karena mereka tahu kami yang lebih dahulu datang. dan mungkin sabar adalah lebih baik di bulan suci ini. dan saya tidak tahu apakah yang saya lakukan adalah salah atau benar? dan saya hanya ingin mempersembahkan ibadah yang terbaik untuk Tuhan Semesta Alam, dan Hanya kepadaNya lah kami berserah diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar